Prinsip Yang Harus Dimiliki Untuk Mengelola Infaq

Apa yang dimaksud dengan infaq? Dan bagaimana mengelola infaq itu sendiri? Baik mari kita bahas satu persatu. Infaq adalah sebuah amalan ibadah yang dapat kita lakukan untuk menyempurkan amalan. Selain menjalan ibadah puasa dibulan Ramadhan, menunaikan ibadah lain seperti infaq, sedekah dan zakat dapat menambah amalan kita di mata Allah.

Ber Infaq Artinya Berbagi

Pengertian infaq adalah berasal dari kata anfaqayunfiqu yang artinya membelanjakan atau membiayai yang berhubungan dengan untuk mendekatatkan dan menjalankan perintah-perintah Allah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Kelima arti infaq pemberian (sumbangan) harta dan sebagainya (selain zakat wajib) untuk kebaikan. Sedangkan menurut istilah infaq artinya mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan dalam ajaran Islam.

Oleh karena itu, infaq berbeda dengan zakat, infaq tidak mengenal nisab atau jumlah harta yang telah ditentukan secara hukum. Infaq juga tidak harus diberikan kepada mustahik tertentu, melainkan dapat diberikan kepada siapapun seperti keluarga, kerabat, anak yatim, orang miskin, atau orang orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Dengan demikian infaq adalah membayar dengan harta, mengeluarkan dengan harta dan membelanjakan dengan harta.

Perintah Dan Keutamaan Dalam Ber Infaq

Perintah supaya seseorang membelanjakan harta tersebut untuk dirinya sendiri ada di dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

 

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًالِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Tagabun: 16)

Sedangkan perintah untuk memberi nafkah istri dan keluarga menurut kemampuan juga telah dijelaskan dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدعُسْرٍ يُسْرًاَ ا

Artinya:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq: 7)

 

Dalam membelanjakan harta harta itu hendaklah yang dibelanjakan merupakan harta yang baik dan bukan yang buruk, khususnya dalam menunaikan infaq berdasarkan firman Allah SWT di dalam surat Al-Baqarah ayat 267 yang berarti:

 

Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagaian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan denagan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Baca Juga Tips Membuat Ruangan Masjid Lebih Lebar

Prinsip Dalam Pengelolaan Infaq

Ada dua hal poin penting yang harus kita perhatikan dalam mengelola infaq yaitu pengumpulan dan pendistribusian infaq. Namun, adalam Alquran lebih memperhatikan masalah dalam pendistribusian. Ini mungkin disebabkan karena pendistribusian infaq mencakup pula pengumpulannya.

Infaq tidak akan bisa didistribusikan jika tidak ada proses pengumpulan infaqnya. Kegiatan pengelolaan infaq dalam sebuah organisasi amil zakat harus mempunyai sekurang kurangnya empat prinsip.

Pertama, amanah. Sifat amanah adalah sifat yang mutlak yang harus dimiliki oleh pengelolas amil zakat.

Kedua, professional. Pengelolaan zakat harus dilakukan secara professional, bukan Lembaga yang hanya menjadi pengelolas zakat sebagai sambilan saja.

Ketiga, transparan, dengan laporan yang trannparan maka akan terciptanya suatu sistem kontrol yang baik.

Keempat, pengeloaan harus independent. Artinya pengeloaan infaq atau sedekah tidak ditunggangin atau mempunyai ketergantungan dengan orang tertentu atau lembaga lain. Ini untuk menghindari dari pengelolaan yang tidak teransparan dan memihak kelompok tertentu.

Secara umum pengelolaan infaq hampir sama dengan mengelola zakat. Namu, menajemen infaq lebih sederhana, karna dalam infaq tidak ada ketentuan khusus seperti dalam zakat.

Namu perludi perhatikan, pengelolaan infaq juga harus dilakukan secara professional. Karna dana infaq dan sedekah juga mempunyai jumlah yang besar, tidak juah berbeda dengan dana zakat. Maka tetap perlu memiliki manajemen sendiri dalam pengelolaanya.

Berdasarkan pedoman pengumpulan dan pentasarufan zakat, infaq dan shadaqah pada badan amil zakat nasional di jelaskan bahwa dana infaq/shadaqah tidak ada hak amilnya, boleh untuk operasional (tentu dalam batas tertentu) dan sesuai dengan kebutuhan yang wajar.

Kesimpulan

Arti infaq yaitu mengeluarkan atau membelanjakan harta dijalan Allah. Lalu kapan waktu mengeluarkan infaq? Tidak ada waktu khusus seperti halnya ketika kita ber zakat. Ada pun poin penting yang harus dimiliki untuk mengelola infaq yaitu amanah, professional, transparan,dan juga independent.

Baca Juga Jual Karpet Masjid Polos Bantul

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *